Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.. dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.. dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada……
<

“Pa kabar lo sekarang, Gen..?? Udah kawin belom..?? Kerja di mana..??”

Pertanyaan tersebut sering kali muncul setiap gw bertemu teman2 lama gw. Pertanyaan itu selalu berulang, dan urutannya nyaris tidak berubah. Pertama menanyakan kabar, kedua menanyakan sudah menikah atau belum, dan ketiga menanyakan soal pekerjaan.  Pertanyaan soal status menikah atau tidak menikah ini terkadang membuat gw “kesentil” juga. Sebagai seorang wanita berusia 25 tahun, still single, tanpa ada pendamping hidup, bahkan tanpa mempunyai seorang kekasih. Untung aja gw tinggal di kota, klo tinggal di desa2 mungkin gw udah di arak keliling kampung sambil di teriak2in, “PERAWAN TUAAA…!! PERAWAN TUAAAA…!!!!!?” (Ok, sorry klo gw rada hiperbola).

Anyway, seringkali hati gw merasa “sepi”, setiap gw melihat teman2 gw sudah ada yang berkeluarga dan bahkan beberapa sudah ada yang mempunyai anak. Duh, kayanya enak juga yah di usia segini sudah membangun sebuah keluarga sendiri. Pulang kerja ada yang menyambut di rumah, apalagi klo udah ada anak… segala kepenatan selama bekerja seharian pasti langsung hilang klo udah main2 sama anak di rumah.

Or at least, having a boyfriend. Kayanya asik juga, pulang kerja ada yg jemput… bisa makan malem bareng, ada yang merhatiin, ada yang menghibur klo lagi stress di kantor. Seperti beberapa waktu yang lalu, pernah gw pulang malem dari kantor. Dengan tubuh penat luar biasa, tampang kusut, otak mumet… Dan pas keluar dari gedung, gw jalan berdua dengan seorang wanita sebaya gw. Ketika berada di parkiran, ada seorang cowo yang sudah menanti menyambut sang wanita tersebut sambil memberikan jaketnya ke sang kekasih karena malem itu udara memang lumayan dingin. Uffffff, gw cuma bisa tersenyum getir…. Enak banget pulang kerja malem2 ada yang jemput, ada yang care… huhuhu….

Seringkali terlintas di benak gw untuk mencari pendamping hidup, atau minimal mencari seorang pacar lah. Tapi ketika sudah berada di kantor, di kelilingi dengan kertas2 dan dokumen2, dan sampai menjelang Isya gw masih berkutat dengan komputer gw…. Duh, kapan gw bisa ada waktu buat pacaran ???!! Setiap hari, 5 hari dalam seminggu gw slalu berangkat pagi - pulang malem. Karena seharian di kantor gw sudah berinteraksi dengan banyak orang, terkadang klo sudah selesai kerja gw kepengennya sendirian aja. Males ngomong sama orang2. Bahkan terkadang untuk menerima telpon atau bales SMS aja gw juga males..! Makanya pulang kerja, gw biasanya langsung pulang ke rumah dan mengurung diri di kamar. Rasanya males mo buka mulut… males bersuara. Kalaupun ingin nongkrong2 di luar, gw lebih senang hang out sendirian, atau ngopi2 sendirian di coffee shop sehabis gw bekerja. Teman2 di kantor gw sampai heran dengan hobby gw yang senang “menyendiri” selepas jam kerja ini.

Nanette Newman mengatakan, “A good marriage is at least 80 percent good luck in finding the right person at the right time. The rest is trust.”

The problem is, kapan gw bisa ada waktu for finding the right person at the right time, klo gw menghabiskan 15 jam seharinya untuk bekerja. Gimana bisa gw menemukan seorang cowo, klo gw selalu menghabiskan waktu gw di depan komputer ? Jadi, klo sudah di sibukkan dengan pekerjaan gw… terpaksa gw harus membuang jauh2 ide untuk mencari seorang pacar.

Makanya sekarang setiap ada yang bertanya kapankah gw akan menikah..? Gw selalu mengutip kalimat Ringgo Agus Rahman di sebuah iklan rokok, “May !! Maybe Yes…. Maybe No..!”

October 31st, 2008 at 9:36 pm